Kabupaten Bogor - Teras Jasinga adalah Media Komunikasi Komunitas Tanah Impian di Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor

Wanita Cantik di Mata Pria

Wanita Cantik di Mata Pria
Wanita-wanita Berparas Menawan Hati

News

Back to Kabupaten Bogor

MENJAWAB HOAX - INDONESIA DIKUASAI ASING


Tenaga Asing yang Bekerja di Indonesia

  • China Menguasai Surat Utang Amerika US$ 1.15 Trilyun -> Apakah Amerika Dicaplok Oleh China?
  • Arab Investasi di China 870 Trilyun -> Apakah Rakyat China Terkencing-kencing Merasa Dijahah oleh China?
  • Amerika Investasi di Singapore 122 Trilyun -> Apakah Warga Singapore Otomatis Jadi Antek Asing?
  • Tenaga Kerja Asing yang Bekerja di Indonesia sebanyak 74.183 ribu dan 21.271 ribu bersala sari China disusul Jepang dll -> Sebagian dari Kita Sudah Terkencing-kencing Merasa Dijajah oleh China
Tenaga Kerja Kita yang Bekerja di Luar Negeri
252.000 TKI bekerja di Taiwan
81.000 TKI bekerja di China
153.000 TKI bekerja di Hongkong
16.000 TKI bekerja di Macau

Apakah Rakyat Taiwan, China, Hongkong, dan Macau merasa Dijajah oleh Indonsia

Mereka bisa bernalar dengan BENAR, Karena Mereka Bisa Membedakan Antara Bisnis Dengan Kedaulatan Negara

"DUNIA ABAD XXI tidak dipetakan lagi oleh Suku Ras dan Agama. 
Masyarakat modern sudah tidak mempermasalahkan lagi perbedaan keyakinan.
Mereka bersama-sama membangun peradaban
Di sini tidak begitu, yang didahulukan hanya kebencian karena takut berkompetisi, dan takut kalah dalam persaingan hidup.
Kemudian dibalut dengan pemahaman sempit dalam beragama"

Sumber : disalin dari gambar di atas

POLITISI NEGARAWAN VS POLITISI POLITIKUS

Gunung Sindur, (WartaJasinga) - Mungkin Sobat akan bertanya? Apakah ada perbedaan, antara Politisi Politikus dengan Politisi Negarawan? Keduanya khan sama-sama Politisi.

Sepintas memang tidak ada bedanya, sama-sama ingin merebut kekuasaan...

Berjuang membangun Bangsa Indonesia, tidak harus melalui karir menjadi “Politisi Politikus”, yang jalannya, hanya melalui lembaga-lembaga politik yang sudah dikuasi oleh politisi-politisi yang mapan dan tetap berjuang demi kekuasaannya semata.

Seorang pencari kekuasaan (Politisi), seyogyanya mempunyai cita-cita, bahwa kekuasaan yang dicapainya kelak, menjadi alat untuk membangun Bangsa-nya sendiri, bukan bangsanya orang lain – seperti sekarang ini – Freeport contohnya.

Sementara Politisi Politikus yang ada saat ini, mereka hanya ingin mempertahankan eksistensinya dalam kelihaiannya mamanajemeni kondisi yang chaos. Ibarat orang sedang bermain selancar, jika gagal sampai di tepi, ia pun kembali terombang-ambing dalam kekacauan itu sendiri.

Kita tahu sekarang ini, Politisi Politikus hanya untuk gaya-gayaan, tidak mengena pada eksistensi peran yang seyogyanya diterapkan untuk Bangsa ini.

Oleh karenanya saya membedakan secara dikotomi, antara “Politisi Politikus” (Tikus yang jadi Politisi) dengan “Politisi Negarawan”

Kondisi sekarang ini memang ibarat tembok besar yang ada didepan kita, hal ini mengingat Negara-negara Barat dan Negara-negara Timur Tengah yang sudah lebih solid, bekerja sama dengan penghianat-penghianat Bangsa ini, untuk mengombang-ambingkan ombak yang sedang dipakai selancar oleh Politisi Politikus WNI itu sendiri.

Politisi Politikus yang bermain selancar pun, dengan serta merta riang gembira, ketika jatuh dari “papan selancar-nya”, karena mereka tahu bahwa yang membuat ombak tersebut adalah teman-temannya sendiri. Begitulah seorang Politisi Politikus melihat dua kekuatan tersebut di atas, sebagai kawan.

Mengapa sebagai kawan, karena seorang penghianat melihat bangsanya sendiri adalah musuh utamanya.

Kiranya sudah cukup diskripsi tentang Politisi Politikus tersebut. Sekarang apa konkritnya???

Tembok besar tidak dapat dilawan dengan kekuatan senjata jadul. Kini saatnya kita menggunakan kekuatan akar rumput. Kita punya budaya “Kearifan Lokal”, semua nilai-nilai lokal, tidak terlepas dari pola hidup, pola makan dan makanan yang dimakan, hingga hiburan yang akan kita nikmati.

Kekayaan kita yang berupa fisik, sudah lama dirampok. Sementara, kekayaan kita yang berupa non-fisik, seperti kebudayaan, sudah lama pula dilunturkan oleh kedua kekuatan tersebut di atas.

Jadilah Politisi Negarawan, berjuang tidak harus dari partai, atau jalur politik lainnya. Berikan pembelajaran bagi sekeliling kita, bahwa kita harus mempertahankan segala kekayaan Bangsa ini.

Bagaimana caranya?

Kita bisa belajar sendiri mengenai "Kearifan Lokal" Bangsa kita, bukan nilai-nilai Barat atau Timur Tengah yang dibungkus, seolah-seolah menjadi kebiasaan kita di masa sekarang ini.

Sapto Satrio Mulyo | Foto : Istimewa

Wanita Cerdas Hormati Pria Berpengetahuan Luas

Wanita Cerdas Hormati Pria Berpengetahuan Luas
Jendela Nusantara

Proud to be Indonesia

Proud to be Indonesia
Back to Local Wisdom
Back To Top